Oleh: Fadlu Rohman, Fatarizky Muhamad, Lestari Purwanti, Sukini, Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Sahid Jakarta
trimedianews.com-Berawal ancaman perubahan iklim, abrasi pantai, dan dampaknya terhadap komunitas pesisir di Indonesia, termasuk di Kabupaten Karawang. Indonesia dengan garis pantai yang panjang sangat rentan terhadap abrasi pantai, naiknya permukaan laut, dan gelombang ekstrem akibat pemanasan global. Sebagian Masyarakat pesisir Utara Desa Sukamaju, Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat dengan mengenal Pusat Restorasi Dan Pembelajaran Mangrove (PPRM) sebagai ekowisata sebagai titik awal dari sebuah program terpadu rehabilitasi pesisir melalui penanaman mangrove (konservasi), pembelajaran ekologis, dan pemberdayaan ekonomi Masyarakat, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim seperti abrasi pantai dan degradasi ekosistem pesisir.
Kesadaran masyarakat sekitar didukung oleh kontribusi pemerintah daerah dan program Corporate Socil Responsibility (CSR) beberapa Perusahaan turut mendukung kemajuan ekowisata ini dilihat dari adanya trend kenaikan pengunjung yang mencapai angka 1200 orang / bulan pada tahun 2024.

Posisi ekowisata PPRM Pasir Putih sebagai awal pengembangan ekowisata berkelanjutan berbasis komunitas pesisir ditengah geliat wisata yang ada, pemasalahan sampah muncul sebagai isu lingkungan saat ini sebagai konsekuensi logis dari meningkatnya aktivitas manusia dan wisata, sehingga pengelolaannya menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekowisata.
Seiring perkembangan ekowisata, UMKM pun tumbuh disekitar pesisir, sampah dari kegiatan wisata dan sampah laut yang kerap kali massif terdampar dipantai maupun sela-sela tanaman mangrove. Sampah-sampah ini bila tidak dikelola dengan baik akan menjadikan menurunnya nilai estetika wisata dan akan merusak habitat kritis dari mangrove serta mengganggu fungsi ekologi laut.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam pengelolaan sampah di Pasir Putih, diantaranya penyediaan sarana prasaranan berupa tempah sampah di beberapa titik di area ekowisata, kerja sama dengan berbagai stakeholder dalam kegiatan pembersihan Pantai (coastal cleanup) dan inisiatif pengelolaan sampah melalui program SIKASEP (Sistem Kelola Sampah Eco Friendly. Hal ini ternyata masih belum sepenuhnya menyelesaikan pemasalahan sampah yang ada.

Beberapa hal yang menyebabkan permasalahan sampah ini belum selesai diantaranya kurangnya tingkat kesadaran dan pemilahan sampah yang masih rendah dari pengunjung PPRM Pasir Putih dan masyarakat sekitar serta adanya sampah laut yang kerapkali masih terbawa ke Pantai. Hal ini perlunya dukungan dari berbagai pihak untuk mengembangkan inisitif program SIKASEP. Untuk itu diperlukan terobosan dalam pengelolaan sampah yang melibatkan beberapa stakeholder terkait.
Beberapa hal yang yang dapat disarankan untuk pengelolaan sampah di PPRM Pasir Putih diantaranya dengan penerapan Sistem Zero Waste Mangrove Trail, Bank Sampah Berbasis Wisata Pesisir, Pemanfaatan Ecobrick untuk sarana wisata, Pemasangan Perangkap Sampah Apung (Floating Trash Trap) dan Pengolahan Sampah Organik melalui composting dan pengembangan tekonologi serta inovasi untuk pemanfaatan cangkang rajungan.
PPRM Pasir Putih Karawang menerapkan integrasi kewirausahaan hijau dalam pemberdayaan masyarakat pesisir merupakan strategi kunci untuk memastikan keberlanjutan ekowisata. Melalui implementasi nyata aspek lingkungan bahwa pemanfaatan mangrove secara non-ekstraktif, penerapan teknologi ramah lingkungan, aspek sosial sebagai penguatan kapasitas masyarakat lokal, aspek ekonomi sebagai kegiatan ekonomi yang berkembang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, dan ditunjang pula juga dari aspek iklim yaitu memperkuat ketahanan iklim dan konservasi pesisir.




Keberlangsungan ekowisata PPRM Pasir Putih merupakan sesuatu yang harus diupayakan sebagai keberlanjutan ekowisata. Hal ini perlu adanya dukungan dari berbagai pihak terkait secara pentahelix baik dari unsur pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga pendidikan dan partisipasi aktif masyarakat sekitar menjadi kunci penting. Inovasi dan kreatifitas dituntut dalam hal ini seiring dengan kemajuan dan pilihan ternologi yang ada, dalam kontek pengelolaan sampah adalah bagian integral dari strategi adaptasi iklim, konservasi, dan pengembangan ekowisata.
(Redaksi trimedianews.com)
