trimedianews.com – Bogor.Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Terbuka Bogor menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan diskusi hukum sebagai wadah silaturahmi sekaligus ruang dialog intelektual bagi mahasiswa Ilmu Hukum UT Bogor. Kegiatan tersebut berlangsung di Serasa Kopitiam pada Minggu (8/3/2026) mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini mengusung tema “Satu Meja, Sejuta Suara, Mencari Keadilan dalam Kebersamaan”, yang memadukan suasana kebersamaan Ramadan dengan diskusi akademik mengenai berbagai isu hukum. Melalui forum tersebut, mahasiswa diharapkan dapat bertukar gagasan sekaligus memperdalam pemahaman hukum secara santai namun tetap substantif.





Diskusi Hukum menghadirkan Supandri, S.H., M.H. dosen Hukum Tata Negara sekaligus tutor di Universitas Terbuka, sebagai narasumber utama. Sementara jalannya diskusi dipandu oleh Fadhlan dari Kementerian Kajian Strategis Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum UT Bogor yang bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Supandri menjelaskan konsep dua prinsip keadilan yang dikemukakan oleh filsuf politik John Rawls, yakni Equal Liberty Principle atau prinsip kebebasan yang sama serta Difference Principle atau prinsip perbedaan. Prinsip kebebasan yang sama menegaskan bahwa setiap individu harus memiliki hak dan kebebasan dasar yang setara, seperti kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hak memilih dalam pemilu, serta kebebasan berserikat.
Sementara itu, prinsip perbedaan menekankan bahwa ketimpangan sosial masih dapat dianggap adil selama memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Menurut konsep Rawls, keberadaan individu yang lebih kaya atau lebih sukses tidak menjadi masalah selama keberhasilan tersebut turut memberikan dampak positif bagi kelompok masyarakat yang lebih luas.
Supandri juga menjelaskan makna filosofis simbol Themis atau Dewi Themis yang dikenal sebagai lambang keadilan dalam sistem peradilan. Menurutnya, simbol tersebut mengandung pesan penting mengenai prinsip-prinsip dasar dalam penegakan hukum.
“Simbol Dewi Themis mengandung pesan filosofis bahwa keadilan harus memenuhi beberapa prinsip utama, yaitu imparsialitas atau ketidakberpihakan, keseimbangan dalam mempertimbangkan perkara, ketegasan dalam menegakkan hukum, serta integritas lembaga peradilan,” ujar Supandri.
Ia menjelaskan bahwa penutup mata pada Dewi Themis melambangkan prinsip equality before the law, yakni hukum harus memandang semua orang setara tanpa membedakan status sosial maupun kekuasaan. Timbangan keadilan melambangkan pertimbangan yang adil dan objektif dalam memutus perkara, sedangkan pedang menggambarkan kekuatan hukum dalam menegakkan keadilan serta memberikan sanksi kepada pelanggar hukum.
Selain diskusi hukum, kegiatan tersebut juga diisi dengan buka puasa bersama, pembagian doorprize, serta sesi diskusi santai yang bertujuan mempererat hubungan antar mahasiswa ilmu hukum sekaligus membahas berbagai isu hukum terkini.
Ketua panitia kegiatan, Alia Ramadani, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan mempererat silaturahmi antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru di bulan Ramadan, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan literasi hukum bagi mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang hangat, santai, tetapi tetap bernilai akademik. Harapannya mahasiswa hukum tidak hanya belajar di ruang digital, tetapi juga aktif berdiskusi dan membangun kesadaran hukum di tengah masyarakat,” ujarnya.
(Galuh)
