Bogor.Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BEM KM IPB) bersama Kastrat Ormawa Eksekutif PKU, BEM Fakultas IPB, dan Lapak Baca Lenterakyat menggelar aksi PANTERA (Perlawanan Anti Tirani Rakyat), Kamis (3/9/2026).

Aksi yang berlangsung di lingkungan IPB tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai masih belum terselesaikan, mulai dari kasus pelanggaran HAM, kekerasan, konflik horizontal, persoalan lingkungan hingga ketimpangan agraria.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Kamisan di Rumput CCR IPB. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan lapak baca yang dihadirkan Lenterakyat sebagai ruang literasi dan refleksi mahasiswa terhadap berbagai persoalan sosial dan politik.

Usai kegiatan Kamisan, massa bergerak menuju Koin IPB untuk melanjutkan aksi melalui mimbar bebas. Sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik melalui orasi, pembacaan puisi hingga monolog.

Salah satu simbol yang mencuri perhatian dalam aksi tersebut adalah dua kuburan bertuliskan โ€œRIP PRABOWOโ€ dan โ€œRIP GIBRANโ€. Simbol tersebut digunakan sebagai bentuk kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran dan disebut bukan sebagai pernyataan mengenai kematian secara harfiah.

Melalui simbol tersebut, mahasiswa menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai โ€œmatinya harapanโ€ terhadap penyelesaian berbagai persoalan HAM dan ketidakadilan. Massa juga menyinggung persoalan penghilangan paksa aktivis serta berbagai kontroversi yang dikaitkan dengan perjalanan kekuasaan Prabowo-Gibran.

Selain isu HAM dan demokrasi, mahasiswa IPB turut membawa persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta agraria. Sebagai institusi pendidikan yang memiliki keterkaitan erat dengan bidang pertanian, persoalan lingkungan dan pengelolaan sumber daya agraria dinilai menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari perhatian mahasiswa IPB.

Dalam isu karhutla, mahasiswa menyoroti pentingnya mitigasi serta pertanggungjawaban atas kerusakan ekologis dan dampaknya terhadap masyarakat. Sementara dalam persoalan agraria, momentum September yang berdekatan dengan Hari Tani Nasional pada 24 September turut dijadikan pengingat terhadap persoalan ketimpangan penguasaan tanah dan kebutuhan reforma agraria.

Aksi kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga, penyalaan lilin, dan mengheningkan cipta untuk mengenang korban kekerasan negara serta berbagai peristiwa kelam yang hingga kini dinilai belum memperoleh penyelesaian.

Di penghujung aksi, Keluarga Besar Institut Pertanian Bogor menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran.

Pertama, mendesak pemerintah mengusut tuntas berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum selesai. Kedua, menghentikan polarisasi, pembenturan masyarakat, serta keterlibatan organisasi masyarakat yang dinilai dapat memicu konflik horizontal.

Ketiga, mendorong pemerintah memperkuat mitigasi terhadap siklus karhutla sekaligus menegakkan pertanggungjawaban atas kerusakan ekologis. Keempat, mewujudkan reforma agraria.

Melalui PANTERA, mahasiswa IPB menempatkan September bukan hanya sebagai momentum untuk mengingat sejumlah peristiwa kelam, tetapi juga sebagai ruang untuk kembali menagih pertanggungjawaban negara atas persoalan yang dinilai belum terselesaikan.

Bagi massa aksi, persoalan HAM, lingkungan, dan agraria tidak cukup hanya dikenang, tetapi membutuhkan penyelesaian konkret agar berbagai bentuk ketidakadilan tidak kembali berulang.


Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca