Gambar Lokasi penelitian (dimodifikasi dari Google Maps dan profil desa)

Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan geografis yang kompleks dalam penyediaan air bersih. Meskipun memiliki potensi sumber daya air yang besar, distribusi yang tidak merata dan kondisi geologi tertentu menyebabkan sebagian wilayah mengalami keterbatasan akses air bersih. Wilayah kepulauan kecil yang didominasi oleh lahan gambut dan daerah pesisir, seperti Pulau Merbau di Kabupaten Kepulauan Meranti, merupakan contoh wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap permasalahan air bersih. Air tanah di wilayah ini umumnya bersifat asam, berwarna gelap, dan mengandung bahan organik tinggi, sehingga tidak layak dikonsumsi tanpa pengolahan lanjutan.


Di sisi lain, Pulau Merbau memiliki potensi pengembangan sebagai kawasan wisata berbasis alam dan budaya. Pengembangan sektor pariwisata di wilayah dengan keterbatasan air bersih berpotensi menimbulkan tekanan tambahan terhadap sumber daya air dan lingkungan apabila tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan solusi penyediaan air bersih yang adaptif terhadap kondisi lokal, berbiaya terjangkau, dan ramah lingkungan.

Pemanenan air hujan (rainwater harvesting) merupakan salah satu teknologi tepat guna yang dinilai relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Teknologi ini memanfaatkan air hujan yang jatuh di permukaan atap bangunan untuk kemudian disimpan dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanenan air hujan memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketahanan air masyarakat, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi. Namun, penerapan teknologi ini memerlukan perencanaan teknis yang matang serta integrasi dengan aspek sosial dan ekonomi agar dapat berkelanjutan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pemanenan air hujan sebagai teknologi tepat guna WASH di Pulau Merbau serta menganalisis implikasinya terhadap keberlanjutan lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi lokal, dan pengelolaan kawasan wisata.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan metode studi literatur sistematis dan analisis data sekunder. Data yang digunakan meliputi data curah hujan jangka panjang selama periode 1997–2016, data demografi dan sosial ekonomi masyarakat Pulau Merbau, serta data teknis terkait luas atap rumah tangga dan sistem pemanenan air hujan. Selain itu, penelitian ini mengkaji berbagai literatur ilmiah dan kebijakan yang relevan dengan WASH, pemanenan air hujan, dan pariwisata berkelanjutan.

Analisis dilakukan dengan menghitung potensi volume air hujan yang dapat dipanen berdasarkan luas atap dan koefisien limpasan. Selanjutnya dilakukan perbandingan antara potensi air hujan dan kebutuhan air domestik masyarakat untuk menilai tingkat pemenuhan kebutuhan air. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengkaji dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari penerapan sistem pemanenan air hujan.

Tinggalkan Balasan