Pulau Merbau memiliki karakteristik biofisik berupa dominasi lahan gambut dan wilayah pesisir yang menyebabkan keterbatasan sumber air tawar. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap air hujan merupakan konsekuensi logis dari kondisi lingkungan tersebut. Berdasarkan data curah hujan jangka panjang, potensi air hujan di Pulau Merbau tergolong tinggi dan relatif stabil sepanjang tahun, sehingga secara teknis memungkinkan untuk dikembangkan sebagai sumber utama air bersih.
Perhitungan menunjukkan bahwa dengan luas atap rumah tangga rata-rata sebesar 213 m² dan koefisien limpasan 0,5, potensi air hujan yang dapat dipanen mencapai 231,7 m³ per tahun. Jumlah ini secara teoritis cukup untuk memenuhi kebutuhan air domestik rumah tangga apabila didukung oleh kapasitas penyimpanan yang memadai. Namun, kondisi eksisting menunjukkan bahwa kapasitas penampungan air hujan masyarakat masih sangat terbatas, sehingga potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Penerapan sistem pemanenan air hujan yang dilengkapi dengan sistem filtrasi sederhana dapat meningkatkan kualitas air dan mengurangi risiko kesehatan. Selain itu, pemanenan air hujan berpotensi memberikan dampak lingkungan positif dengan mengurangi tekanan terhadap air tanah dan ekosistem lokal. Dari sisi sosial ekonomi, penerapan teknologi ini dapat menurunkan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian air dan membuka peluang pengembangan kewirausahaan hijau berbasis pengelolaan air bersih.

