trimedianews.com – Bogor.
Komunitas pemikiran Teras Kebinekaan menghadirkan sejumlah cendekiawan dalam acara bedah buku karya Ogde B. Ada berjudul “Investing Game Theory (IGT): Bagaimana Menjadi Kaya, Bahagia, dan Sejahtera” yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2025.

Kegiatan yang digelar di Kantor Teras Kebinekaan, Jalan H. Mawi, Parung, Bogor ini menghadirkan berbagai tokoh lintas disiplin untuk membedah gagasan dalam buku tersebut, mulai dari perspektif ekonomi, sosiologi, agama hingga filsafat.
Sejumlah pembicara yang hadir di antaranya Moh. Shofan selaku Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan, Rikard Bagun yang juga Anggota Dewan Pengarah BPIP, Sugeng Bahagijo selaku Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Budhy Munawar-Rachman dari STF Driyarkara, M. Adlin Sila (Dosen Antropologi FISIP UI), Ahmad Gaus AF (Head of Project Esoterika), Abdullah Sumrahadi (Dosen President University), serta Saefudin Zuhri, Pendiri Madani Connection.
Diskusi ini dipandu oleh Milastri Muzakkar, Founder Generasi Literat.
Dalam sambutannya, Moh. Shofan menyampaikan bahwa buku karya Ogde B. Ada tersebut merupakan refleksi intelektual yang berada di persimpangan antara spiritualitas, filsafat, dan kritik sosial.
Menurutnya, buku ini tidak disusun sebagai karya akademik formal, melainkan sebagai refleksi yang lahir dari kegelisahan penulis terhadap realitas keberagamaan manusia modern.
“Buku ini mencoba menjelaskan bagaimana nilai-nilai spiritual dan filosofis dapat berpadu dalam membangun kehidupan yang bermakna, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Shofan, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia menambahkan, kegiatan bedah buku ini menjadi ruang dialog reflektif untuk menggali bagaimana integrasi wahyu, filsafat, dan sains dapat menjawab tantangan peradaban modern.
Sementara itu, Budhy Munawar-Rachman menyebut buku Investing Game Theory sebagai sebuah eksperimen intelektual yang berani.
Menurutnya, buku tersebut berada di antara teks motivasi, teologi, dan risalah filsafat yang berupaya menjawab bagaimana manusia dapat hidup sejahtera tanpa kehilangan akal budi dan iman.
“Intisari pemikiran yang ditawarkan penulis terletak pada ‘permainan’ strategis antara memberi dan mengambil, di mana hukum tertinggi kehidupan adalah memberi manfaat atau rahmatan bagi sesama,” jelas Budhy.
Pandangan lain disampaikan Rikard Bagun yang menilai buku ini memiliki potensi melahirkan diskursus sosial yang lebih luas.
Ia menyebut buku tersebut akan semakin menarik apabila tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi bahan perdebatan intelektual karena menyentuh aspek personal, sosial, hingga emosional.
“Jalan menuju kebenaran seperti yang diperlihatkan dalam buku ini tidak selalu linier, tetapi bersifat spiral dan kadang menghadirkan patahan yang melahirkan creative destruction,” ujarnya.
Sugeng Bahagijo juga menyoroti keunikan buku tersebut. Menurutnya, meskipun secara substansi ditujukan bagi pembaca tingkat lanjut, buku ini tetap dikemas dengan bahasa yang cukup mudah dipahami.
“Buku ini menekankan pentingnya disiplin diri, manajemen waktu, serta penghargaan terhadap kebinekaan. Dalam konteks Indonesia, gagasan seperti ini terbilang cukup orisinal,” kata Sugeng.
Sementara itu, M. Adlin Sila menilai buku tersebut mendorong pembaca untuk mengembangkan cara berpikir kritis.
“Akal sangat penting sebagai navigasi agar kita tidak terjebak dalam emosi keagamaan semata,” ujarnya.
Abdullah Sumrahadi menambahkan bahwa melalui buku ini, penulis berupaya menarasikan pengalaman hidupnya dalam sebuah refleksi pemikiran yang lebih mendalam.
Menurutnya, pesan yang tersirat dalam buku tersebut adalah pentingnya memahami esensi suatu persoalan, tidak sekadar mengikuti prosedur secara mekanis.
“Pahami, adaptasi, lalu laksanakan,” tegasnya.
Acara bedah buku ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif bersama peserta serta buka puasa bersama yang diikuti para undangan dan peserta diskusi.
(Wawan.S)
