trimedianews.com – Kab.Bogor.Menanggapi dinamika nasional yang tengah berkembang, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (BEM UMBARA) sukses menggelar acara Simposium Kebangsaan pada Selasa, 30 Juni 2026, bertempat di Aula Universitas UMBARA Bogor. Acara ini mengusung tema besar “Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Publik”.
Inisiasi ini lahir dari hasil observasi mendalam terhadap situasi nasional serta konsolidasi internal mahasiswa. Simposium ini diposisikan sebagai ruang dialektika untuk mengevaluasi kebijakan publik, memperkuat partisipasi demokratis, sekaligus merumuskan perspektif kebangsaan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Enam Isu Strategis Kebangsaan
Dalam telaah ilmiahnya, BEM UMBARA menyoroti enam klaster persoalan fundamental yang dinilai saling berkelindan dan memicu penurunan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara:
1. Stabilitas Ekonomi dan Tekanan Rupiah: Fluktuasi nilai tukar rupiah mencerminkan adanya tantangan struktural. Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan biaya impor, ongkos produksi, hingga menggerus daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.
2. Kualitas Pertumbuhan Ekonomi: Akselerasi pertumbuhan ekonomi dinilai belum inklusif karena belum berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja formal yang layak, terutama bagi para lulusan perguruan tinggi.
3. Evaluasi Kebijakan Pendidikan: Pendidikan nasional masih dihadapkan pada ketimpangan akses, disparitas kualitas antarwilayah, serta ketidakselarasan (mismatch) dengan kebutuhan dunia kerja.
4. Efektivitas Pengelolaan APBN: Di tengah tuntutan efisiensi fiskal, publik menuntut pengelolaan anggaran yang transparan, akuntabel, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
5. Demokrasi Internal Partai Politik: Tata kelola partai politik didorong untuk memperkuat mekanisme partisipatif, regenerasi kepemimpinan, dan proses pengambilan keputusan yang inklusif demi mendongkrak kualitas demokrasi nasional.
6. Program Makan Bergizi Gratis: Sebagai agenda strategis peningkatan SDM, program ini memerlukan pengawasan ketat terkait kesiapan anggaran, efektivitas distribusi, tata kelola, serta keberlanjutannya agar tepat sasaran.
Tanggung Jawab Historis Mahasiswa
Afif Zaelani selaku Presiden Mahasiswa UMBARA menegaskan bahwa rentetan persoalan tersebut bermuara pada satu titik krusial, yaitu menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap institusi negara. Oleh karena itu, mahasiswa mengambil tanggung jawab historis sebagai kekuatan moral untuk meluruskan kembali arah pembangunan.
“Menarasikan ulang arah negara bukan berarti menegasikan negara. Sebaliknya, hal tersebut merupakan ikhtiar intelektual untuk memastikan bahwa perjalanan republik senantiasa berorientasi pada cita-cita pendiri bangsa: keadilan sosial, demokrasi konstitusional, dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” ungkap pihak BEM UMBARA dalam rilis tertulisnya.
Melalui Simposium Kebangsaan ini, diharapkan terbangun ruang refleksi kolektif yang mempertemukan berbagai perspektif, memperkuat literasi demokrasi, serta menggalang keberanian seluruh elemen bangsa untuk mengawal jalannya republik melalui cara-cara yang demokratis, konstitusional, dan berkeadaban.
(Fhirman)
