trimedianews.com – Bogor.Kami, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Barru (BEM UMBARA), menyampaikan sikap tegas atas meninggalnya Arianto Tawakal (14), pelajar Madrasah di Kota Tual, Maluku Tenggara, yang diduga kuat menjadi korban kekerasan aparat kepolisian (Brimob).
Peristiwa ini bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari pola kekerasan struktural yang terus berulang, terutama terhadap warga sipil dan kelompok rentan, termasuk anak di bawah umur. Negara, melalui aparat penegak hukumnya, gagal menjalankan mandat konstitusional untuk melindungi hak hidup dan rasa aman warga negara.
Lebih jauh, tragedi ini menunjukkan kegagalan sistemik dalam tubuh Kepolisian Republik Indonesia, yang tidak hanya soal oknum di lapangan, tetapi menyangkut rantai komando, pembiaran, dan lemahnya pengawasan institusional di tingkat pusat.
Oleh karena itu, BEM UMBARA menyatakan,
- Mengecam keras tindakan kekerasan aparat Brimob yang menyebabkan hilangnya nyawa seorang anak, sebagai bentuk pelanggaran HAM berat dan pengkhianatan terhadap prinsip negara hukum.
- Mendesak pengusutan hukum yang transparan, independen, dan akuntabel, bukan sekadar proses etik internal yang selama ini berujung impunitas.
- Menuntut pencopotan dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh rantai komando, bukan hanya pelaku lapangan, karena kejahatan struktural tidak lahir tanpa legitimasi kekuasaan.
- Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk mencabut dan mengevaluasi kepemimpinan Kapolri*, *Jenderal Listyo Sigit Prabowo*, karena kegagalan berulang Polri dalam mencegah kekerasan aparat menunjukkan krisis kepemimpinan dan kegagalan reformasi institusi.
- Menilai bahwa selama kepolisian lebih melindungi korps daripada korban, maka Polri tidak lagi berdiri sebagai alat negara, melainkan alat kekerasan kekuasaan.
Kami menegaskan, reformasi Polri bukan slogan, melainkan keharusan historis. Ketika anak-anak bisa mati di tangan aparat, maka yang sedang sekarat bukan hanya korban, tetapi keadilan itu sendiri.
BEM UMBARA berdiri bersama rakyat, bersama korban, dan bersama seluruh elemen mahasiswa di Indonesia untuk melawan normalisasi kekerasan negara.
Hentikan impunitas.
Cabut kepemimpinan gagal.
Selamatkan kemanusiaan.
BEM UMBARA
Presiden Mahasiswa,
Muhamad Afif Zaelani
(Dody)
