Oleh Yunandra Sowakil (GMNI Bogor Raya)

trimedianews.com – Iran, 28 Februari 2026. Sebuah rudal jelajah Amerika Serikat menghantam sekolah perempuan di sebuah kota kecil. Serangan yang dikoordinasikan dengan Israel itu merenggut 108 nyawa anak-anak yang sedang belajar. Beberapa jam kemudian, pesawat tempur F-35 Israel mengebom fasilitas riset di Isfahan. Total korban mencapai 200 jiwa.
Dari Jakarta, respons Kementerian Luar Negeri keluar dengan nada hati-hati: โ€œIndonesia prihatin dan siap menjadi mediator.โ€


Tidak ada kutukan. Tidak ada penarikan duta besar. Tidak ada pernyataan tegas dari Presiden Prabowo Subianto.


Seolah darah 108 anak perempuan di Minab tidak cukup berarti. Seolah keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BOP)โ€”dewan perdamaian yang dua anggotanya justru menjadi pengebomโ€”lebih berharga daripada martabat bangsa.


Sebagai kader GMNI yang mewarisi nasionalisme Bung Karno, saya menulis ini dengan dada membara. Hari ini kita menyaksikan bagaimana politik luar negeri bebas aktif yang dulu disegani dunia, dikhianati oleh pemimpin yang menjadi antek Amerika dan Israel.

BoP: Ujian Perdamaian yang Gagal


Serangan ke Iran adalah ujian pertama bagi BoP. Dan BoP gagal total. Profesor Nur Rachmat Yuliantoro (UGM) menyebut hal ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan. Sementara pakar hukum internasional UI, Hikmahanto Juwana, mengingatkan struktur BoP yang janggalโ€”Donald Trump sebagai chairman seumur hidup dengan kewenangan membubarkan lembaga. โ€œIndonesia memberi cek kosong,โ€ katanya.


Masyarakat sipil bahkan mengubah akronim BoP menjadi Board of War. Aqsa Working Group (AWG) menegaskan BoP gagal menjaga perdamaian. JATTI menyebut keanggotaan Indonesia justru mempersulit posisi kita sebagai sahabat dunia Islam.

Bung Karno: Ketika Indonesia Berani Melawan


Bandingkan dengan era Bung Karno. Saat Inggris, Prancis, dan Israel menginvasi Mesir dalam Krisis Suez 1956, Bung Karno langsung mengutuk keras di PBB dan mengirim bantuan ke Mesir.

Saat memperjuangkan Irian Barat, ia tidak gentar melawan tekanan Barat. Saat Malaysia menjadi proyek neokolonialisme Inggris, ia lantang mendeklarasikan โ€œGanyang Malaysia.โ€


Bung Karno tidak pernah takut dicitrakan anti-Barat. Ia percaya pada berdikariโ€”berdiri di atas kaki sendiri. Ia memahami konsep Nekolim (Neokolonialisme, Kolonialisme, Imperialisme) dan tahu bahwa penjajahan bisa menyamar dalam pakta militer maupun aliansi strategis.


BoP adalah wajah baru Nekolim itu: sebuah klub eksklusif yang didesain untuk mengendalikan narasi perdamaian sesuai kepentingan Barat. Dan Indonesia, dengan sukarela, menjadi pajangan di etalase itu.

Prabowo: Antara Kekaguman dan Pengkhianatan


Pak Prabowo, Anda mengagumi Bung Karno. Tetapi kekaguman tanpa tindakan adalah kemunafikan. Di masa kampanye, Anda bicara tentang kemandirian bangsa. Namun setelah menjabat, Anda membawa Indonesia masuk ke BOPโ€”dewan bentukan Trump yang beranggotakan Israel. Anda membayar iuran Rp17 triliun untuk duduk satu meja dengan negara yang membantai saudara kita di Palestina dan kini di Iran.


Ketika serangan terjadi, Anda memilih diam. Padahal Ketua MUI, para akademisi, dan Koalisi Masyarakat Sipil sudah bersuara, mendesak Indonesia keluar dari BOP.

Seruan untuk Presiden


– Tarik Indonesia dari BoP sekarang juga. Setiap hari kita bertahan di BoP adalah setiap hari kita mengkhianati bangsa sendiri.
– Kutuk agresi AS-Israel ke Iran. Gunakan kata โ€œmengutukโ€, bukan โ€œprihatin.โ€ Jangan takut pada AS. Bung Karno tidak pernah takut.
– Dengar suara rakyat, MUI, JATTI, AWG, akademisi, dan mahasiswa sudah bersuara. Jangan tutup telinga.
Bung Karno mengajarkan Jas Merahโ€” Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Sejarah mencatat Indonesia besar karena berani berbeda dan konsisten pada prinsip.


Serangan AS-Israel ke Iran adalah momen kebenaran bagi kepemimpinan Anda. Apakah Anda akan dikenang sebagai penerus Bung Karno atau pengkhianat warisannya? Darah 108 anak Minab adalah saksi bisu atas segala pengkhianatan. Tarik Indonesia dari BoP. Kembalikan politik luar negeri kita pada relnya: bebas, aktif, dan berpihak pada kemanusiaan.


Atau sejarah akan mencatat Anda sebagai presiden yang menghancurkan warisan Bung Karno. Dan kami, mahasiswa Indonesia, tidak akan pernah melupakannya.


MERDEKA!

(Rian)


Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca