Bogor.Asrul Haruna resmi terpilih sebagai Koordinator Presiden Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah Indonesia (BEM PTMAI) periode mendatang. Dalam proses pemilihan yang dilaksanakan di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) Surakarta 29-31 Oktober 2026 melibatkan perwakilan dari 117 kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia, Asrul berhasil mengantongi 67 suara.
Dalam siaran persnya yamg diterima trimedianews.com pada 31 Oktober 2026, selain menetapkan Koordinator Presiden Nasional, forum musyawarah tersebut turut mengamanahkan posisi Sekretaris Jenderal BEM PTMAI kepada Nasrawi Ibnu Dahlan. Duet kepemimpinan baru ini diharapkan mampu membangun koordinasi organisasi yang solid serta memperkuat konsolidasi gerakan mahasiswa Muhammadiyah dan ’Aisyiyah secara nasional.
Partisipasi aktif dari 117 kampus dalam forum ini mencerminkan tingginya antusiasme serta keterlibatan berbagai elemen mahasiswa PTMA dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi tingkat nasional. Mandat yang diperoleh dengan perolehan 67 suara tidak hanya dimaknai sebagai legitimasi kepemimpinan, melainkan sebagai tanggung jawab besar untuk merajut persatuan di tengah keberagaman karakteristik dan dinamika gerakan mahasiswa dari masing-masing perguruan tinggi.
Ke depan, BEM PTMAI diproyeksikan menjadi simpul koordinasi nasional yang strategis. Organisasi ini diharapkan tidak sekadar berorientasi pada komunikasi antarkampus, melainkan bertransformasi menjadi ruang artikulasi gagasan, pusat advokasi kepentingan mahasiswa, serta garda terdepan dalam merespons berbagai persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, demokrasi, dan kebangsaan.
Di tengah kompleksitas tantangan dunia pendidikan tinggi dan kehidupan masyarakat saat ini, mahasiswa dituntut untuk terus merawat daya kritis, keberanian intelektual, serta keberpihakan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan. Oleh karena itu, arah gerak BEM PTMAI diarahkan agar senantiasa progresif, inklusif, dan berkemajuan.
Kepemimpinan nasional yang baru ini diharapkan mampu menjadi wadah kolektif untuk menyatukan potensi mahasiswa PTMA, mengoptimalkan kerja-kerja advokasi, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Sebab, pergantian kepemimpinan dinilai bukan sekadar seremoni organisatoris, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali peran organisasi mahasiswa sebagai instrumen perjuangan, ruang dialektika, dan kekuatan moral yang senantiasa hadir menjawab persoalan zaman.
“117 Kampus, Satu Gerakan, Bersama Membangun Indonesia Berkemajuan.”
(Fhirman)
Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
