trimedianews.com – Bogor.Hari Jadi Bogor ke-544 seharusnya tidak hanya menjadi ruang perayaan atas bertambahnya usia Kabupaten Bogor, tetapi juga menjadi momentum refleksi untuk mengukur sejauh mana pembangunan benar-benar menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Kami mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Bogor yang menyelenggarakan rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor ke-544 di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Keputusan tersebut merupakan simbol penting bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di wilayah perkotaan, melainkan harus menjangkau masyarakat yang selama ini berada di pinggiran perhatian kebijakan.

Sebagai mahasiswa, kami memandang bahwa langkah tersebut memiliki makna historis dan sosial yang penting. Desa Malasari bukan sekadar lokasi seremonial, tetapi menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah harus berangkat dari keberpihakan terhadap masyarakat akar rumput.

Namun demikian, peringatan Hari Jadi Bogor tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah dan simbolisme pembangunan. Masih terdapat berbagai persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius dan langkah penyelesaian yang konkret.

Kami mencatat bahwa kemiskinan masih menjadi realitas yang dihadapi sebagian masyarakat Kabupaten Bogor. Akses pendidikan yang belum merata masih menyebabkan anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh masa depan yang lebih baik. Persoalan stunting, kualitas pelayanan kesehatan, pengangguran, kerusakan lingkungan, tata kelola sumber daya alam, hingga kesenjangan pembangunan antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Atas dasar itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya menyampaikan beberapa catatan kritis:

• Pemerintah Kabupaten Bogor harus memastikan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup masyarakat secara nyata.

• Program pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, dan penurunan angka putus sekolah harus menjadi prioritas utama yang dilaksanakan secara terukur, transparan, dan berkelanjutan.

• Pemerintah daerah perlu memperkuat partisipasi masyarakat dan kalangan muda dalam proses perencanaan serta pengawasan pembangunan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.

• Pembangunan di wilayah pedesaan dan kawasan pinggiran harus terus didorong untuk mengurangi ketimpangan yang masih terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Bogor.

Sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, saya menegaskan bahwa mahasiswa akan tetap berada pada posisi sebagai kekuatan moral, agen perubahan, dan kontrol sosial. Kami siap menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah, mendukung setiap kebijakan yang berpihak kepada rakyat serta mengingatkan ketika arah pembangunan menjauh dari kepentingan masyarakat.

Hari Jadi Bogor ke-544 harus menjadi momentum untuk memastikan bahwa kemajuan daerah tidak hanya dirasakan oleh sebagian kelompok, tetapi menjadi hak seluruh masyarakat Kabupaten Bogor tanpa terkecuali.

“Bogor tidak membutuhkan perayaan yang megah semata, tetapi membutuhkan keberanian untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.”

Muhamad Afif Zaelani
Presiden Mahasiswa
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya



(Dody)

Tinggalkan Balasan