trimedianews.com – Kab.Bogor.Dalam dinamika pendidikan tinggi hari ini yang kompleks dan cepat. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tidak lagi cukup diposisikan sebagai organisasi administratif yang sekadar menjalankan program kerja formal.

Di tengah kompleksitas persoalan sosial yang semakin nyata, BEM dituntut untuk hadir sebagai kekuatan intelektual sekaligus motor perubahan yang mampu menjembatani antara dunia akademik dan realitas masyarakat, Maka dengan itu, BEM Umbara hari ini menegaskan arah geraknya dengan berpijak pada tiga poros utama, yakni transformasi intelektual, transformasi sosial, dan transformasi gerakan sebagai bentuk ikhtiar kolektif dalam membangun kesadaran kritis, memperkuat keberpihakan terhadap realitas sosial, serta menghadirkan gerakan mahasiswa yang terorganisir, progresif, dan berdampak nyata.

Transformasi intelektual menjadi fondasi utama. BEM Umbara harus mampu menjadi ruang produksi gagasan dan penguatan tradisi diskursus di kalangan mahasiswa. Dalam kerangka ini, pemikiran Paulo Freire tentang kesadaran kritis menjadi relevan, bahwa pendidikan bukan hanya tentang memahami dunia, tetapi juga tentang bagaimana mengubahnya. Oleh karena itu, BEM Umbara hari mendorong perguruan tinggi melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya bertanggung jawab secara akademik, tetapi juga memiliki ketajaman intelektual dalam membaca realitas sosial.

Selanjutnya, transformasi sosial menuntut BEM Umbara untuk tidak berjarak dengan masyarakat. Kabupaten Bogor sebagai wilayah dengan jumlah penduduk yang besar dan heterogen masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, persoalan lingkungan seperti alih fungsi lahan, hingga isu kesejahteraan masyarakat di wilayah pinggiran.

Dalam konteks ini, BEM Umbara harus hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi menyerap aspirasi, mengadvokasi kepentingan publik, serta membangun kolaborasi yang berdampak nyata. Pandangan Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berpihak pada kemajuan masyarakat, sehingga keterlibatan sosial mahasiswa menjadi sebuah keniscayaan, Adapun transformasi gerakan menjadi penegasan bahwa seluruh gagasan tersebut harus diwujudkan dalam bentuk aksi yang konkret. Mengacu pada pemikiran Antonio Gramsci, mahasiswa sebagai intelektual organik memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif dalam perubahan sosial. Oleh karena itu, BEM Umbara hari ini konsisten dan ikhtiar mengonsolidasikan gerakan mahasiswa yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan yang tidak berhenti pada wacana, tetapi bergerak dalam praksis yang nyata, termasuk dalam mengawal kebijakan pemerintah daerah agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

Secara normatif, peran tersebut memiliki legitimasi yang kuat. Dalam kerangka kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, organisasi kemahasiswaan berfungsi sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa dalam aspek intelektual, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Melalui Permendikbud Nomor 155 Tahun 1998, ditegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan memiliki fungsi sebagai sarana penyaluran aspirasi, pengembangan diri, serta pembentukan kepribadian yang utuh. Dalam hal ini, BEM Umbara memiliki posisi strategis sebagai representasi mahasiswa sekaligus kekuatan kontrol sosial.

Dengan demikian, keberadaan BEM Umbara tidak dapat dipandang sebagai pelengkap struktural semata, melainkan sebagai aktor penting dalam membentuk arah peradaban mahasiswa. Di tengah realitas Kabupaten Bogor yang penuh tantangan, kehadiran BEM Umbara sebagai kekuatan intelektual dan gerakan menjadi semakin relevan dan mendesak. Pada akhirnya, penegasan tiga poros transformasi intelektual, transformasi sosial, dan transformasi gerakan bukan sekadar slogan, melainkan arah ideologis yang harus diwujudkan secara konkret.


Sumber : BEM Umbara


(Dody)

Tinggalkan Balasan