Diskusi publik bertajuk "Aktivisme Mahasiswa Hari Ini: Memperkuat Independensi dan Menangkal Infiltrasi Kepentingan" berlangsung di Aula Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Sabtu (25/7/2026).

Kota Bogor.Tantangan gerakan mahasiswa hari ini tak lagi cuma soal menyuarakan aspirasi di jalanan, tetapi juga bagaimana mempertahankan independensi di tengah derasnya arus informasi dan kepentingan politik di ruang digital. Isu hangat ini mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Aktivisme Mahasiswa Hari Ini: Memperkuat Independensi dan Menangkal Infiltrasi Kepentingan” yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Sabtu (25/7/2026).

Acara yang diprakarsai oleh aliansi mahasiswa Kota Bogor tersebut menyedot perhatian puluhan perwakilan elemen pemuda dan lintas kampus. Diskusi menghadirkan tiga sudut pandang berbeda: Kabid Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (Iwasbang) Kesbangpol Kota Bogor Raden Ronny Kurniaefi, Aktivis Senior M. Munjin Sulaeman, serta Presiden Mahasiswa BEM UBSI Bogor Ahmad Robani.

Kritik Bukan Musuh Pemerintah

Membuka pemaparannya, Raden Ronny Kurniaefi menegaskan posisi pemerintah daerah terhadap dinamika aktivisme pemuda. Menurutnya, pemerintah tidak pernah menganggap suara sumbang atau kritik mahasiswa sebagai ancaman. Sebaliknya, kritik konstruktif berbasis data adalah bagian penting dari checks and balances dalam demokrasi.

“Pemerintah berupaya menyediakan ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk terlibat dalam proses kebijakan publik, mulai dari dialog, audiensi, hingga pelibatan langsung,” terang Ronny.

Namun, Ronny memberikan catatan tebal, kolaborasi tidak boleh mengaburkan garis independensi. Ancaman terhadap gerakan mahasiswa saat ini datang lebih halus dan terselubung mulai dari tunggangan kepentingan ekonomi, politik hingga propaganda di media sosial. Solusi utamanya terletak pada penguatan literasi digital dan transparansi dalam tiap bentuk kemitraan.

Transparansi dan Nalar Kritis di Era Digital

Menanggapi hal tersebut, Presiden Mahasiswa BEM UBSI Bogor, Ahmad Robani, menekankan pentingnya kesetaraan dan keterbukaan ketika mahasiswa berjejaring dengan pihak luar, baik pemerintah maupun swasta. Kemitraan, tegasnya, tidak akan pernah membungkam daya kritis mahasiswa.

“Setiap keputusan strategis organisasi selalu diputuskan melalui musyawarah internal secara kolektif, bukan atas kehendak individu,” tegas Robani.

Ia juga menambahkan bahwa di era banjir informasi, mahasiswa harus membentengi diri dengan budaya intelektual. Setiap penyikapan isu harus didasari pada kajian ilmiah dan analisis data yang matang agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi menyesatkan di ruang siber.

Kembali ke Akar: Bersama Rakyat

Dari perspektif aktivis senior, M. Munjin Sulaeman mengingatkan bahwa roh dari independensi mahasiswa adalah konsistensi dan kedekatan dengan masyarakat. Sikap kritis yang murni tidak lahir dari arahan elite atau kepentingan kelompok tertentu, melainkan tumbuh secara organik dari rasa empati terhadap realitas sosial di lapangan.

Diskusi publik ini bermuara pada satu kesimpulan mendasar, gerakan mahasiswa harus tetap berorientasi pada kepentingan rakyat. Dengan memegang teguh kemandirian, mengasah nalar kritis, serta cerdas berselancar di ruang digital, mahasiswa akan terus menjadi benteng pertahanan demokrasi yang kokoh di Indonesia.

(Galuh)

Tinggalkan Balasan