trimedianews.com – Bogor.Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB (BEM KM IPB) menggelar kegiatan bertajuk PANTERA (Perlawanan Anti Tirani Rakyat): Malaria – Membangkitkan Perlawanan Buruh Indonesia di depan Graha Widya Wisuda, IPB University, Jumat (24/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus diskursus publik yang mengangkat isu perburuhan di Indonesia melalui pendekatan edukatif dan kreatif.
Acara diisi dengan penampilan musik, diskusi pemantik, lapak baca, serta mading historik yang menghadirkan berbagai literatur dan informasi terkait isu buruh dan tani. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk menyuarakan keresahan sosial secara konstruktif.
Mahasiswa IPB, Diki, dalam sesi Mimbar Bebas menjelaskan bahwa istilah “Malaria” yang diangkat dalam kegiatan ini bukan merujuk pada penyakit, melainkan sebagai metafora kondisi sosial.
“Malaria di sini kami maknai sebagai gambaran para marhaen, buruh, dan tani yang ‘menggigil kedinginan’ akibat kebijakan rezim saat ini,” ujarnya.



Ketua Pelaksana PANTERA, Muhammad Dhimas Yudistira, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah aspirasi sekaligus inovasi gerakan mahasiswa.
“PANTERA menjadi wahana bagi masyarakat sekitar dan KM IPB untuk mengaspirasikan keresahan. Pergerakan tidak selalu harus dimaknai dengan turun ke jalan atau kemarahan, tetapi juga bisa melalui mimbar bebas, diskusi, dan pendekatan kreatif,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran lapak baca dan mading historik bertujuan memperkaya wawasan peserta.
“Kami tidak hanya memberikan panggung orasi, tetapi juga menghadirkan pengetahuan sebagai bekal agar keresahan yang disampaikan memiliki dasar yang kuat,” tambah Dhimas.
Sementara itu, Menteri Aksi dan Propaganda BEM KM IPB, Fadhlan Nurfaqih, menilai mahasiswa saat ini cenderung terlalu fokus pada aktivitas akademik sehingga kurang peka terhadap isu sosial.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pergerakan bisa dilakukan dengan gembira dan penuh kesadaran, tanpa harus anarkis. Namun substansinya tetap kuat, yaitu memperjuangkan kesejahteraan buruh,” ujarnya.
Fadhlan juga menyoroti dampak Omnibus Law dan Undang-Undang Cipta Kerja terhadap kondisi buruh di Indonesia.
“Kami melihat adanya persoalan struktural, termasuk sistem outsourcing yang berpotensi melegalkan perbudakan modern. Kami tidak menuntut penghapusan, tetapi perlu ada batasan yang jelas serta jaminan kesehatan, sosial, dan pendidikan bagi pekerja,” tegasnya.
Ia turut mengungkapkan kondisi buruh harian lepas, khususnya buruh tani, yang dinilai masih jauh dari sejahtera.
“Buruh tani hari ini hanya mengandalkan penghasilan sekitar Rp50.000 per hari, yang tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi pendidikan anak-anak mereka,” katanya.
Menurutnya, BEM KM IPB tengah menyusun policy brief berbasis data empiris di sekitar lingkungan kampus sebagai landasan advokasi kebijakan.
“Kami bergerak dengan kajian, bukan sekadar emosi. Harapannya, policy brief ini bisa didengar dan menjadi pertimbangan bagi para pengambil kebijakan,” tambah Fadhlan.
Ia juga menyinggung kondisi petani yang masih bergantung pada tengkulak meskipun memiliki potensi produksi yang besar.
“Petani adalah penyangga pertanian Indonesia. Namun faktanya, dengan alat produksi yang sederhana, mereka masih harus berutang kepada tengkulak,” ujarnya.
Ke depan, BEM KM IPB berencana mengeskalasi gerakan ini, termasuk membawa hasil kajian dalam momentum Hari Buruh Internasional (May Day).
“Kami berharap pemerintah dan DPR dapat membuka ruang dialog serta menerima kajian yang kami susun,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa IPB yang juga narasumber kegiatan, Muhammad Gabril Diandra, menilai kegiatan PANTERA sebagai ruang diskusi yang positif dan edukatif.
“Kegiatan ini menarik karena menggabungkan edukasi, literasi, dan ruang dialektika. Isu buruh adalah isu krusial yang dekat dengan kehidupan kita sebagai mahasiswa,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Semoga ini menjadi ruang yang produktif untuk membangun kesadaran, pola pikir, dan arah gerakan ke depan,” pungkasnya.
(Galuh)
