Guru sering dipuji sebagai pahlawan pendidikan. Tetapi di balik gelar itu, masih ada guru yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Hari Guru seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: sudahkah kita benar-benar menghargai mereka?

Oleh: Tatang suherman Ketua umum HMI Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan Cabang Kota Bogor

Setiap 5 Oktober, kita ramai-ramai mengucapkan selamat kepada guru. Media sosial dipenuhi foto bersama guru, kata-kata penuh penghormatan, dan berbagai bentuk apresiasi. Guru kembali disebut sebagai pahlawan pendidikan, sosok yang berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun, setelah ucapan selesai dan perayaan berakhir, apa yang berubah dalam kehidupan guru?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah persoalannya.

Kita begitu mudah mengatakan bahwa guru adalah pahlawan. Tetapi ketika berbicara mengenai kesejahteraan mereka, pembahasannya sering kali tidak sesederhana memberikan ucapan terima kasih.

Guru bukan hanya sosok yang berdiri di depan kelas. Mereka adalah manusia yang juga harus membayar kebutuhan sehari-hari, memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, membayar transportasi, dan menghadapi berbagai kebutuhan hidup lainnya.

Karena itu, menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa tidak boleh berubah menjadi pembenaran bahwa mereka harus selalu siap berkorban tanpa mendapatkan kehidupan yang layak.

Jangan Jadikan Pengabdian sebagai Alasan untuk Mengabaikan Kesejahteraan

Persoalan guru honorer dan non-ASN bukan cerita baru dalam dunia pendidikan Indonesia.

Masih ada guru yang menghadapi persoalan penghasilan, status kepegawaian, fasilitas kerja, perlindungan profesi, hingga kepastian masa depan. Di satu sisi, mereka dituntut untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Di sisi lain, mereka masih harus berhadapan dengan persoalan kesejahteraan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana mungkin kita meminta guru memberikan yang terbaik jika mereka sendiri belum sepenuhnya mendapatkan kehidupan yang layak?

Pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum, teknologi, gedung sekolah, atau metode pembelajaran. Ada manusia yang menjalankan seluruh proses itu.

Dan manusia tersebut adalah guru.

Kualitas pendidikan pada akhirnya sangat berkaitan dengan kondisi orang-orang yang berada di dalamnya. Guru yang mendapatkan dukungan, perlindungan, dan kesejahteraan yang memadai tentu memiliki ruang yang lebih baik untuk menjalankan tugas profesionalnya.

Karena itu, pembicaraan mengenai kesejahteraan guru seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan terpisah dari kualitas pendidikan.

Keduanya saling berkaitan.

Guru Bukan Mesin Pendidikan

Ada kecenderungan kita melihat guru hanya dari hasil pekerjaannya.

Ketika peserta didik berprestasi, guru dipuji. Ketika kualitas pendidikan menurun, kompetensi guru dipertanyakan. Ketika ada tuntutan perubahan kurikulum, guru diminta beradaptasi. Ketika teknologi pendidikan berkembang, guru kembali dituntut untuk mengikuti.

Tuntutan tersebut memang bagian dari perkembangan dunia pendidikan.

Tetapi jangan lupa bahwa guru bukan mesin yang dapat terus bekerja tanpa batas.

Guru memiliki keluarga. Guru memiliki kebutuhan. Guru memiliki batas kemampuan. Guru juga berhak mendapatkan lingkungan kerja yang aman, fasilitas yang memadai, dan penghargaan yang sebanding dengan tanggung jawab profesinya.

Maka, jangan sampai kita terlalu sibuk berbicara tentang bagaimana guru harus meningkatkan kualitas dirinya, tetapi lupa memastikan bahwa sistem di sekitarnya juga memberikan dukungan yang memadai.

Penghormatan Tidak Cukup dengan Seremoni

Hari Guru Sedunia semestinya tidak berhenti pada seremoni.

Memberikan bunga kepada guru tentu bukan sesuatu yang salah. Mengunggah foto bersama guru juga bukan masalah. Mengucapkan terima kasih pun tetap penting.

Tetapi penghormatan yang sesungguhnya tidak selesai dalam satu hari.

Menghormati guru berarti memastikan mereka memiliki penghasilan yang layak.

Menghormati guru berarti menyediakan fasilitas yang mendukung mereka bekerja.

Menghormati guru berarti memberikan perlindungan ketika mereka menghadapi persoalan dalam menjalankan profesinya.

Dan menghormati guru juga berarti memastikan ada kepastian terhadap masa depan pekerjaan mereka.

Sebab, apa artinya kita terus mengatakan bahwa guru adalah fondasi pendidikan jika fondasi tersebut justru tidak mendapatkan perhatian yang cukup?

Saatnya Mengubah Pertanyaan

Sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Keguruan dan Ilmu Pendidikan, saya melihat persoalan guru bukan sekadar persoalan tenaga pendidik.

Ini adalah persoalan masa depan pendidikan Indonesia.

Selama ini kita sering bertanya:

Apa yang sudah diberikan guru kepada bangsa?

Pertanyaan itu penting. Tetapi hari ini kita juga perlu mengajukan pertanyaan yang sama pentingnya:

“Apa yang sudah diberikan negara kepada guru?”

Bukan untuk mempertentangkan guru dengan negara. Bukan pula untuk mengabaikan berbagai kebijakan yang telah dilakukan pemerintah.

Pertanyaan ini justru penting agar setiap kebijakan tentang pendidikan tidak hanya dilihat dari angka dan program, tetapi juga dari bagaimana dampaknya dirasakan oleh guru sebagai pelaksana pendidikan di lapangan.

Sebab kebijakan pendidikan pada akhirnya tidak hanya hidup di atas kertas.
Ia hidup di ruang kelas.

Dan di ruang kelas itulah guru menjalankan sebagian besar tanggung jawab pendidikan bangsa.

Memperjuangkan Guru Berarti Memperjuangkan Pendidikan

Kita ingin memiliki generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Tetapi cita-cita tersebut tidak akan lahir begitu saja.

Ada guru yang setiap hari mendampingi mereka. Ada guru yang menjelaskan pelajaran ketika tidak dipahami. Ada guru yang memberikan motivasi ketika peserta didik kehilangan semangat. Ada guru yang bahkan menjadi tempat pertama seorang anak mendapatkan dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri.

Karena itu, kesejahteraan guru tidak seharusnya dipandang hanya sebagai persoalan ekonomi para tenaga pendidik.

Ketika kita memperjuangkan kesejahteraan guru, kita juga sedang memperjuangkan kualitas pendidikan.

Ketika kita memperjuangkan perlindungan guru, kita sedang menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat.

Dan ketika kita memastikan profesi guru memiliki masa depan yang jelas, kita sedang menjaga keberlanjutan pendidikan Indonesia.

Hari Guru Sedunia akhirnya bukan sekadar tentang bagaimana kita mengingat jasa guru.

Ini tentang bagaimana kita memperlakukan mereka setelah semua ucapan penghormatan selesai.

Jangan sampai setiap tahun kita mengatakan guru adalah pahlawan, tetapi di saat yang sama kita lupa bahwa seorang pahlawan juga membutuhkan kehidupan yang layak.

Maka, tahun ini mari kita rayakan Hari Guru Sedunia dengan cara yang sedikit berbeda.

Bukan hanya dengan tepuk tangan.

Bukan hanya dengan bunga.

Bukan hanya dengan ucapan terima kasih.

Tetapi dengan memastikan bahwa guru benar-benar dihargai, dilindungi, dan disejahterakan.

Karena ketika guru sejahtera, yang kita jaga bukan hanya kehidupan seorang guru.

Kita sedang menjaga masa depan pendidikan Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari trimedianews.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca